62 Tahun Wafat Mgr. Soegijapranata: Warisan Spiritualitas Perjumpaan Terus Dihidupi di Dunia Pendidikan

SEMARANG (Jatengaktual.com) — Sosok Uskup pribumi pertama sekaligus Pahlawan Nasional, Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ, kembali dikenang dalam peringatan wafat ke-62 tahun yang digelar di Taman Makam Pahlawan (TMP) Giri Tunggal, Semarang, Selasa (22/7).

Perayaan ini menjadi momen reflektif untuk menggali kembali semangat perjuangan dan spiritualitas “100% Katolik, 100% Indonesia” yang diwariskan tokoh Gereja tersebut.

Perayaan Ekaristi dipimpin oleh empat imam, yaitu Rm. Marcellinus Tanto, Pr, Rm. Sbastianus Prasetya Aditama N, Pr, Rm. Paulus Erwin Sasmita, Pr, dan Rm. Bernadus Himawan, Pr. Hadir dalam misa tersebut sivitas akademika Soegijapranata Catholic University (SCU), serta perwakilan dari Pemuda Katolik, PMKRI, dan WKRI.

Baca Juga:  Kejati Jateng Selamatkan 47 miliar dalam Kasus TPPU Bank BUMN

Rektor SCU, Dr. Ferdinandus Hindiarto, menyampaikan bahwa semangat Mgr. Soegijapranata terus menjadi pijakan nilai universitas.

“Kami rutin menggelar misa tahunan untuk mengenang beliau sebagai patron universitas. Terus mewarisi, menggali, dan menghidupi nilai-nilai beliau. Salah satunya yang kami tekankan tiga tahun terakhir adalah bagaimana setiap perjumpaan yang beliau lakukan bersama siapapun bisa mengubah dan menggerakkan,” ujarnya.

Tema ini juga menjadi landasan peringatan Dies Natalis ke-43 SCU yang akan jatuh pada 5 Agustus 2025: Spiritualitas Perjumpaan: Pendidikan Personal dan Inklusif yang Mengubah dan Menggerakkan.

Baca Juga:  MBG Dorong Anak Sekolah dan Santri Tumbuh Sehat, Cerdas dan Produktif

“Kami ingin ‘perjumpaan yang mengubah’ selalu hadir dalam proses pendidikan, sehingga kampus bukan sekadar ruang akademik, tapi tempat bertumbuhnya pribadi yang matang dan berdaya ubah,” tandas Ferdinandus.

Mgr. Soegijapranata dikenal sebagai tokoh yang menggabungkan iman dan nasionalisme dalam perjuangannya. Selama menjabat sebagai Vikaris Apostolik Semarang (1940) dan Uskup Keuskupan Agung Semarang (1949), ia aktif dalam jalur diplomasi internasional untuk memperkuat pengakuan terhadap kemerdekaan Indonesia.

Salah satu langkah penting yang ia ambil adalah mengirim surat resmi kepada Vatikan, mendesak pengakuan terhadap kemerdekaan RI.

Baca Juga:  Mahasiswa Ilkom USM Promosikan Keindahan Alam Desa Lerep Ungaran Lewat Fotografi

Di dalam negeri, ia memfasilitasi dialog lintas agama, mendorong dukungan dari para misionaris, serta membuka gereja sebagai tempat perlindungan bagi korban perang.
Uskup kelahiran Surakarta, 25 November 1896 itu juga dikenal sebagai pribadi yang cerdas, rendah hati, dan progresif. Pendidikan yang ditempuh di Belanda turut membentuk pandangannya yang terbuka dan inklusif.

Slogan “100% Katolik, 100% Indonesia” menjadi prinsip yang terus digaungkan hingga kini—terutama di SCU, yang berkomitmen menjadi ruang pembelajaran yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga tangguh secara spiritual dan sosial.

Berita Terkait

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Berita Terkini