PURWOREJO (Jatengaktual.com) – Upaya mendorong pemanfaatan energi terbarukan berbasis potensi lokal terus dilakukan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Tim 36 Universitas Diponegoro (UNDIP).
Kali ini, mahasiswa melakukan penitikan dan pemetaan biodigester eksisting serta kandang sapi yang berpotensi dikembangkan sebagai lokasi pembangunan biodigester baru di Desa Tangkisan, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari dukungan terhadap pengelolaan limbah peternakan yang berkelanjutan sekaligus pengembangan energi alternatif ramah lingkungan di tingkat desa.
Pemetaan dilaksanakan oleh dua mahasiswa Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) UNDIP yang tergabung dalam KKN-T Tim 36, yakni Nindi Aprilia Maresca dan Nareindra Duhita Parandita Sukma.
Salah satu anggota tim, Nindi Aprilia Maresca, menjelaskan bahwa pemetaan ini bertujuan menyediakan data spasial yang akurat sebagai dasar perencanaan pengembangan biodigester di Desa Tangkisan.
“Melalui pemetaan ini, kami ingin mengidentifikasi potensi desa secara lebih terukur agar pengembangan biodigester ke depan bisa tepat sasaran dan berkelanjutan,” ujarnya.
Dalam pelaksanaannya, mahasiswa PWK UNDIP melakukan identifikasi lapangan sekaligus wawancara dengan pengelola UD Bina Lestari guna memperoleh gambaran pemanfaatan biodigester yang telah berjalan di desa tersebut.
Pengelola UD Bina Lestari, Bu Tari, menjelaskan bahwa kapasitas biodigester di setiap rumah tangga disesuaikan dengan jumlah ternak sapi yang dimiliki.
“Biasanya dua ekor sapi bisa digunakan untuk biodigester berkapasitas lima kubik. Hasilnya dapat dimanfaatkan untuk memasak dengan kompor dua tungku dan satu lampu. Di Bina Lestari sendiri sudah ada tiga biodigester dengan kapasitas masing-masing empat, lima, dan sembilan kubik. Sementara biodigester yang baru dibangun berkapasitas lima kubik,” jelas Bu Tari.
Selain itu, berdasarkan hasil wawancara dengan warga setempat, Pak Yanto mengaku tertarik untuk mengembangkan biodigester sebagai sarana pengolahan limbah ternak sapi.
Ketertarikan tersebut menunjukkan adanya peluang pengembangan biodigester yang cukup besar melalui keterlibatan langsung masyarakat desa.
Meski demikian, mahasiswa juga menemukan sejumlah kendala di lapangan.
Beberapa warga dinilai belum siap memiliki biodigester karena keterbatasan kemampuan dalam pengelolaan dan perawatannya.
Menanggapi hal tersebut, Bu Tari berharap kegiatan pemetaan dan penentuan lokasi biodigester baru dapat mendorong peningkatan jumlah biodigester di Desa Tangkisan.
“Ketersediaan bahan baku gas saat ini semakin terbatas, sementara limbah ternak sapi justru sangat melimpah dan berpotensi besar untuk dimanfaatkan oleh warga,” ungkapnya.
Tidak hanya memetakan biodigester yang telah ada, mahasiswa KKN-T Tim 36 UNDIP juga melakukan pemetaan kandang sapi milik warga yang dinilai berpotensi dikembangkan menjadi biodigester baru.
Penilaian dilakukan dengan mempertimbangkan jumlah ternak sapi, ketersediaan lahan, serta aksesibilitas lokasi kandang.
Proses penitikan lokasi dilakukan dengan memanfaatkan teknologi pemetaan digital menggunakan aplikasi Avenza Maps untuk pengambilan titik koordinat di lapangan.
Data tersebut kemudian dikonversi ke format KML dan diolah menggunakan perangkat lunak QGIS (Quantum Geographic Information System) guna menghasilkan peta sebaran biodigester eksisting dan kandang sapi potensial yang informatif sebagai bahan pendukung perencanaan berbasis wilayah.
Mahasiswa KKN-T Tim 36 UNDIP lainnya, Nareindra Duhita Parandita Sukma, menambahkan bahwa kegiatan ini juga menjadi sarana pembelajaran langsung bagi mahasiswa dalam memahami kondisi riil masyarakat.
“Dengan terjun langsung ke lokasi kandang sapi dan biodigester, kami bisa melihat potensi sekaligus permasalahan di lapangan, sehingga perencanaan yang disusun nantinya lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” katanya.
Melalui kegiatan pemetaan ini, Mahasiswa KKN-T Tim 36 UNDIP berharap dapat berkontribusi dalam mendukung pengelolaan lingkungan yang ramah lingkungan serta mendorong pemanfaatan energi terbarukan di tingkat desa.
Upaya tersebut diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa Tangkisan secara berkelanjutan melalui pengelolaan limbah ternak yang lebih optimal.***

